Entah kenapa,
Setiap disebut namanya…
Setiap diungkap keutamaannya…
Setiap dibaca sejarahnya…
Hati bergemuruh sesak di dada
Entah kenapa,
Setiap mengingatnya…
Setiap merenung tentangnya…
Setiap ingin mendekatinya…
air mata menetes seketika.
Ah…
Andai aku bukan pendosa,
Andai aku tidak berhias nista
Andai jubahku bukan aib dan cela
Kan ku katakan ini cinta…
Mamang aku tak layak..
Aku tak pantas…
Di mana aku ketika api menyala
Berkobar di depan pintunya?!
Di mana aku ketika cambuk melecutnya
Menghanguskan sebagian kulitnya ?!
Di mana aku ketika mereka mendobrak rumahnya
Mendorongnya, dan mematahkan rusuknya ?!
Di mana aku ketika gugur janinnya
Di mana aku ketika menyeruak tangisnya
Di mana aku ketika ajal menjemputnya
Di mana aku ketika mereka menikam suaminya
Di mana aku ketika mereka meracun buah hatinya
Di mana aku ketika mereka membantai belahan jiwanya
Di mana aku….ketika…ketika….
Ah…tak cukup pengakuanku..
Maafkan aku ya Zahra’…
Maafkan aku duhai harapanku…
Maafkan aku duhai junjunganku…
Adakah harga air mata
Dibanding derita yang kau terima
Maafkan aku…
Hanya ratapan yang bisa kuberikan